Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Eksistensi “Guru Sufi” di Dunia Pendidikan | Tuan Guru

Guru Sufi dalam pengertian tasawuf adalah pembimbing spiritual yang mengajarkan kepada muridnya jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Guru sufi biasa juga disebut mursyid. Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani menandaskan bahwa guru sufi adalah seorang manusia sempurna yang telah memiliki ilmu syariah, thariqah dan sekaligus haqiqah. Kemudian dengan ilmu tersebut guru dapat berkomunikasi dengan Tuhan tanpa meninggalkan salah satu dari bagian ilmu-ilmu tersebut.

Paradigma dewasa ini menganggap bahwa praktik sufisme tidak sejalan lagi dengan perkembangan jaman yang menuntut masyarakat agar kreatif dan kompetitif dalam menghadapi era global. Banyak orang Islam meninggalkannya, bahkan menganggapnya bid’ah. Di abad ke-21, justru lahir mistikus-mistikus Barat yang mengamalkan sufisme dalam kehidupan sehari-hari.

Gay Hendricks dan Kate Ludeman mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan,  bahwa di abad ke-21 ini, para mistikus atau sufi ini tidak akan dijumpai di tempat-tempat peribadatan, akan tetapi justru ditemukan di meja korporasi-korporasi (perusahaan raksasa). Dalam penelitiannya selama 25 tahun, Gay Hendricks dan Kate Ludeman mencatat sejumlah eksekutif, pemimpin perusahaan yang mempraktikkan ajaran sufi. Mereka bukanlah orang yang rakus dan mengejar kemewahan, mereka bekerja dengan mengamalkan ajaran spiritualis. Sufi korporasi ini memiliki ciri-ciri sebagai pemimpin yang demokratis, jujur, adil, tegas, bertanggung jawab, terbuka, empati, dan memandang rendah kemewahan.

Pertanyaan yang muncul, mungkinkah ada mistikus sufi di dunia pendidikan? Adakah guru sufi di sekolah-sekolah? Jika yang dimaksud adalah guru sufi dalam pengertian mengajar sufisme tentu tidak ada, karena ajaran sufi tidak terdapat dalam standar isi kurikulum pendidikan formal. Namun guru yang belajar tasawuf dan mempratikkan ajaran sufi, tentu saja ada. Spiritualitas seseorang tercermin dalam praktik kehidupan sehari-harinya, maka guru sufi ini tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pada umumnya. Untuk mengenal profil guru sufi tersebut, kita harus merumuskan pengertian guru sufi dalam konteks dunia pendidikan.

Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dalam pengertian sederhana, guru dapat diartikan sebagai orang yang bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah.

Pengertian sufi dapat ditelusuri dari asal kata, yakni kata al-suffah (orang yang ikut pindah dengan Nabi Saw. dari Mekkah ke Madinah) menggambarkan sikap orang-orang yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya semata-mata karena Allah. Mereka rela meninggalkan semuanya di Mekkah untuk hijrah bersama Nabi ke Madinah. Selanjutnya kata saf (menggambarkan orang yang selalu berada di barisan depan dalam beribadah dan melakukan kebajikan) demikian pula kata sufi (suci) menggambarkan orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa, dan kata sophos (hikmah) menggambarkan keadaan jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran.

Dengan demikian dari segi bahasa, tasawuf dapat diartikan sebagai sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, taat beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebahagiaan dan selalu bersikap bijaksana.

Berdasarkan definisi di atas dapat dirumuskan bahwa guru sufi adalah orang yang bertanggung jawab untuk membimbing anak didik, berakhlak mulia, yaitu selalu memelihara kesucian diri, taat beribadah, hidup sederhana, rela berkorban, dan bijaksana.

Guru sufi bukanlah guru tasawuf yang mengajarkan mistisisme dan sufisme kepada siswa, guru sufi adalah seorang guru yang mengenal misi hidupnya, yang menjalankan tugas profesinya dengan kesadaran penuh untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Tentunya tidak mungkin diuraikan semua karakteristik guru sufi mengingat praktik sufisme amat luas, meliputi aspek lahiriah dan batiniah, rahasia-rahasia hati, hubungan dengan sesama dan hubungan dengan Sang Khalik. Profil guru sufi di bawah ini, hanyalah gambaran minimal seorang guru sufi yang coba diangkat berdasarkan konsep kekinian, yaitu antara lain sebagai berikut:

  1. Memandang tugas profesinya sebagai amanah dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai ibadah dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.
  2. Senantiasa menjaga akhlak di depan murid-murid dan teman sejawat, dan memberi contoh dengan sikap dan perbuatan, bukan dengan kata-kata.
  3. Bekerja dengan ikhlas, bukan untuk mendapat pujian dan penghargaan dari atasan dan teman sejawat, terlebih lagi bukan karena mengejar honor atau insentif.
  4. Senantiasa merendahkan diri, tidak merasa “lebih” dibanding rekan-rekannya. Tidak memamerkan kemampuan yang dimilikinya, namun senang membantu.
  5. Menyiapkan perangkat pembelajaran bukan karena perintah atau takut pada kepala sekolah dan pengawas, tapi atas kesadaran sendiri dengan maksud memperbaiki kualitas pembelajaran.
  6. Melaksanakan 24 jam tatap muka bukan semata-mata untuk mendapatkan tunjangan profesi (sertifikasi), tapi dilaksanakannya dengan senang hati agar dapat lebih banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan anak didiknya.
  7. Senantiasa berfikir, mentadabburi pekerjaannya, memohon petunjuk Tuhan agar anak-anak didiknya menjadi cerdas dan berakhlak mulia. Bila anak didiknya berhasil, dia menganggap itu semua atas kehendak Tuhan, sebaliknya jika siswa tidak berhasil, menganggapnya sebagai kesalahannya yang bekerja belum optimal.
  8. Lebih banyak berpikir dan bekerja untuk pengembangan sekolah dan peningkatan mutu pembelajaran, daripada mengkritik kebijakan di sana-sini.
  9. Ketika rekan-rekan sejawat sibuk memperbincangkan masalah karir dan kesejahteraan guru, dia sibuk berdzikir dalam hati. Meski demikian, dia tidak meninggalkan pembicaraan dan tetap mengemukakan pendapatnya untuk menjaga hubungan silaturrahim.

Kepustakaan :
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.
Muhammad Solikhin, 17 Jalan Menggapai Mahkota Sufi Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jailani. Yogyakarta: Mutiara Media, 2009.
Sugeng Widodo, Mindset Islami Seni Menikmati Hidup Penuh Kebahagiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010.
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.