Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
eduarddouwesdekkermultatuli

Eduard Douwes Dekker (Penulis Buku Max Havelaar) | Tuan Guru

Eduard Douwes Dekker lahir pada tanggal 2 Maret 1820 di Amsterdam, Belanda. Sejak tahun 1840 ia menjadi pegawai negeri (ambtenaar) di Batavia (Jakarta). Mula-mula bertugas sebagai penata usaha kelas II pada Algemene Rekenkamer (Dewan Pengawas Keuangan). Tahun 1842 pindah ke Dinas Administrasi Binnenlandsch Bestuur (Pangreh Praja), kemudian diangkat menjadi controleur di Natal (Sumatera). Dalam perjalanan karier selanjutnya, Eduard diangkat menjadi sekretaris residen di Manado akhir April 1849 yang merupakan masa-masa karier terbaiknya. Kemudian dipindahkan ke Ambon (1851 – 1852) dan pada tahun 1856 ditempatkan dalam pangkat yang sama di Lebak (Rangkasbitung, Banten).

eduarddouwesdekkermultatuli
Eduard Douwes Dekker (http://entoen.nu)

Setelah beberapa minggu Eduard Douwes Dekker Baru menjalankan tugas, ia melapor kepada Residen Banten tentang tindakan Bupati Lebak yang sedang mengerahkan penduduk dalam jumlah yang menurut peraturan yang berlaku melebihi dari semestinya. Orang-orang itu dikerahkan untuk pekerjaan pancen (tanpa upah) membersihkan rumput di pekarangan kabupaten berhubung akan berkunjungnya Bupati Cianjur ke Rangkasbitung. Karena residen tidak bertindak selaras dengan usulnya, malah mencela tindakannya yang tergesa-gesa, maka Eduard Douwes Dekker berhubungan langsung dengan Gubernur Jenderal (yang dikenalnya baik secara pribadi), meminta agar laporannya mengenai Bupati Lebak diminta pertanggungjawabannya atas tindakannya yang melampaui batas itu. Sebagai jawaban atas permohonan itu, Douwes Dekker diperintahkan untuk sementara mewakili pekerjaan asisten residen di Ngawi, Madiun.

Atas perlakuan ini Douwes Dekker merasa tidak lagi dapat bekerja pada pemerintahan dan atas permintaan sendiri diberhentikan dari jabatannya (April 1857). Dalam tahun itu juga dia kembali ke negeri Belanda dan mulai menulis untuk menumpahkan rasa kecewa dan sakit hatinya dan menunjukkan kepada Nederland keadaan-keadaan yang amat buruk di Hidia Belanda.

Tahun 1860 ia menulis bukunya yang terkenal, Max Havelaar of de koffieveilingen der Nederlandsche Handelsmaatschappij (Max Havelaar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda) dengan nama samaran Multatuli (bahasa Latin yang berarti: saya telah banyak menderita). Buku tersebut merupakan bingkai dari berbagai jalinan kisah cerita. Dimulai kisah tentang Batavus Droogstoppel, seorang pedagang kopi yang membosankan dan kikir, yang menjadi simbol bagaimana Belanda mengeruk keuntungan dari koloninya di Hindia Belanda. Suatu hari, mantan teman sekelasnya (Sjaalman) menjenguk Droogstoppel dan memintanya menerbitkan sebuah buku.

Buku Max Havelaar menceritakan pengalaman nyata Multatuli (alias Max Havelaar) sebagai asisten residen di Hindia Belanda. Sebagian besar adalah pengalaman penulis Eduard Douwes Dekker sendiri sebagai pegawai pemerintah. Asisten residen Havelaar membela masyarakat lokal yang tertindas, orang-orang Jawa, namun para atasannya yang warganegara Belanda dan masyarakat lokal yang mempunyai kepentingan bisnis dengan Belanda, beramai-ramai menentangnya.

Sejumlah kisah tentang masyarakat pribumi dirangkai dalam buku ini, misalnya, kisah tentang Saidjah dan Adinda. Di antara kalimat-kalimat tentang kisah cinta yang mengharukan, tersirat protes atas eksploitasi dan kekejaman pemerintah Hindia Belanda yang menjadikan orang-orang Jawa sebagai korbannya. Di bagian akhir buku ini, Multatuli menyampaikan permintaan secara sungguh-sungguh langsung kepada Raja William III sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kesewenang-wenangan dan korupsi pemerintahan di Hindia Belanda.

Pada akhir hayatnya, si penulis buku Max Havelaar ini tinggal di Wiesbaden, Jerman, bersama seorang anak Jerman yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Selama dua belas tahun akhir hidupnya, Eduard tidaklah mengarang melainkan hanya menulis berbagai surat-surat. Eduard Douwes Dekker kemudian pindah ke Ingelheim am Rhein dekat Sungai Rhein sampai akhirnya meninggal 19 Februari 1887.

Sumber: http://entoen.nu/maxhavelaar/id http://id.wikipedia.org/wiki/Eduard_Douwes_Dekker

Shadily, Hassan.1973. Ensiklopedi Umum. Yogyakarta: Kanisius

Artikel Terkait dengan Sejarah
•  Biografi Singkat Tan Malaka
•  Aktivitas Politik Tan Malaka Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
•  Biografi Singkat Sukarni (Pejuang Kemerdekaan)
•  Biografi Singkat Supriyadi (Pemimpin Pemberontakan PETA di Blitar)
•  Biografi Singkat Soepomo
•  Biografi Singkat Abdul Haris Nasution
•  Biografi Singkat Jenderal Soedirman
•  Peranan Snouck Hurgronje dalam Perang Aceh
•  Faktor Ekstern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
•  Faktor Intern Timbulnya Pergerakan Nasional Indonesia
•  Renaissance dalam Islam
•  Pan Islamisme
•  Pengaruh Pan Islamisme Terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
•  November Belofte (1918)
•  Pengaruh Gagalnya November Belofte Terhadap Perhimpunan Indonesia
•  Perkembangan Pers di Indonesia Hingga Terbentuknya Pers Nasional
•  Peranan Pers dalam Pergerakan Nasional Indonesia
•  Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda)
•  Asas dan Bentuk Perjuangan Organisasi Perhimpunan Indonesia
•  Peranan Pemuda dalam Sejarah Perjuangan Bangsa