Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Didiklah Anak Belajar dari Kesalahannya! | Tuan Guru

Rany, anak perempuanku punya kebiasaan buruk, yakni sering lupa membawa perlengkapan sekolah. Kebiasaan buruk ini mulai muncul ketika duduk di kelas V Sekolah Dasar. Kebijakan gurunya bahwa tempat duduk diatur menurut waktu kedatangan anak, membuat Rany selalu ingin cepat-cepat ke sekolah dengan harapan dapat duduk di bangku paling depan. Saking terburu-burunya, maka kadang lupa bawa buku PR, catatan, buku Paket, atau apa saja. Seperti biasa baru 5 menit tiba di sekolah, melayanglah SMSnya: “Antarkan buku PR Matematikaku, please!” atau “Minta tolong antarkan buku Bahasa Indonesiaku, nanti saya dimarahi bu Guru.”

Biasanya istriku langsung mengambil tindakan cepat, tepat, dan langsung ke sekolah membawa pesanan tersebut. Alasannya, tidak tega melihat anaknya kena marah gurunya, atau dihukum gara-gara keteledorannya. Akibatnya Rany tidak pernah menyadari kekurangannya karena selalu terselamatkan oleh tindakan sigap ibunya.

Suatu ketika saya membahas kebiasaan Rany tersebut dengan istriku. Saya berikan dia pengertian bahwa perhatian dan kasih sayang pada anak itu perlu. Namun jika selalu melindunginya dari kesalahan, maka anak tersebut akan terhambat dalam proses pendewasaan. Sebagai orang tua kita harus mengantarkan anak mencapai masa dewasanya dengan baik. Setiap orang pernah berbuat salah, itu pasti. Namun tidak banyak orang yang mau menerima dan belajar dari kesalahan. Umumnya orang lebih suka melemparkan kesalahan pada orang lain. Dan kita saksikan betapa banyaknya anak yang tumbuh besar, tapi jiwanya tidak besar. Mereka tumbuh menjadi anak yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya ketika besar dan menduduki suatu jabatan, ia menjadi pejabat yang tidak bertanggung jawab.

Setelah mendengar penjelasan saya yang panjang lebar, akhirnya istriku dapat memahami dan mulai komitmen untuk bekerjasama demi kebaikan anak. Nah, suatu ketika penyakit Rany kambuh lagi, kali ini baju olah raganya yang dia lupa. Istri saya tidak lagi melayaninya. Dia balas SMSnya dengan kalimat: “Nak, belajarlah bertanggung jawab. Bilang terus terang sama bu Guru, kalau dimarahi, terima saja. Belajarlah menerima kesalahan!”

Aneh, ketika pulang sekolah Rany tidak menunjukkan tanda-tanda badmood di wajahnya. Senyumnya tetap merekah saat memasuki rumah. Waktu makan siang bersama, Rany mulai menceriterakan pengalamannya di sekolah. Dia sangat takut mengira dirinya akan dihukum. Dia pun berterus terang atas kelalaiannya hari itu sambil menanti hukuman apa yang bakal menimpanya. Ternyata guru tidak menghukumnya. Bu Guru hanya menasehati agar tidak terburu-buru, dan mengingat segala sesuatunya sebelum berangkat ke sekolah. Saya melihat dia mulai menyadari bahwa kesalahannya selama ini adalah menghindari kesalahan itu sendiri. Anak yang tidak berani menghadapi kesalahan, tidak akan pernah punya kesempatan untuk belajar dari kesalahannya.

Sejak itu anakku tidak pernah lagi meminta tolong diantarkan bukunya yang terlupa. Ia sudah bisa menerima sanksi jika berbuat salah. Bukan hanya itu, kebiasaan buruknya pun lambat laun hilang. Dia tidak lagi tergesa-gesa. Dia bangun lebih awal agar bisa menyiapkan perlengkapan sekolah dengan baik, dan tetap datang lebih awal untuk duduk di bangku depan. Kini Rany sudah naik kelas VI. Kami sangat senang melihat perubahannya, dan lebih penting adalah melihat dia tumbuh besar dengan jiwa yang besar.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengutip kata-kata bijak dari Robert T. Kiyosaki:
“Di sekolah kita belajar bahwa kesalahan itu buruk, dan kita dihukum karena membuat kesalahan. Tetapi, jika kita melihat bagaimana manusia dijadikan untuk belajar, kita belajar dari membuat kesalahan. Kita belajar berjalan saat terjatuh. Jika kita tidak pernah terjatuh, kita tidak akan pernah berjalan.”

——- Tuan Guru ——-