Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Contoh Pidato; Politik Tanpa Moral | Tuan Guru

Assalamualaikum wr.wb. Puji syukur kehadirat Allah swt, atas diciptakannya manusia dengan sebaik bentuk, baik dalam bentuk fisik, dan bahkan baik dalam bentuk akhlak. Tak lupa shalawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah saw, sosok tokoh paling santun dalam berpolitik, nabi yang diutus untuk menyempurnakan akhlak dan moral. Maka tak heran, jika gaya politik bermoral beliau dijadikan landasan teori strategi perang dan politik semua tokoh sukses di dunia.

Saya ucapkan terima kasih kepada panitia dan dewan juri, atas kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pidato yang berjudul ‘Politik Tanpa Moral’.

Dewan juri yang saya hormati, dan teman-teman yang saya banggakan.
Kancah percaturan politik mengalami kemajuan pesat. Terbukti, pilihan masuk pada dunia politik lebih dipilih oleh masyarakat dibanding memilih profesi lain yang kemungkinan lebih menjanjikan. Akibatnya, panggung politik menjadi gelanggang dalam lingkaran persaingan ketat. Target menjadi pemenang di tengah kemelut persaingan, tak pelak menjadikan politik sebagai tujuan, menerjang tata krama, tak peduli dengan etika, dan melupakan moral.

Politik adalah alat dan sekaligus jalan. Tak ada yang salah dalam politik. Yang salah adalah menjalankan politik sebagai alat dengan cara yang tak bermoral, mengabaikan tata krama, norma, susila, dan menghalalkan segala cara.

Semua orang, baik muda maupun tua, pasti mendambakan “perilaku manis bermoral,” baik dalam tindakan keseharian, maupun tindakan politik. Tetapi perlu disadari, sikap sopan, santun dan bermoral, tidak dibawa sejak manusia lahir. Apa moral itu? Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila. Kondisi mental yang membuat orang tetap berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya.

Lalu, apakah politik tanpa moral itu? Politik tanpa moral adalah politik yang menghalalkan segala segala cara, politik yang sudah kehilangan nurani demi mencapai tujuan kelompok. Jika suatu bangsa mengembangkan politik tanpa moral, maka tunggulah kehancuran bangsa itu.

Dewan juri yang saya hormati, dan teman-teman yang saya banggakan.
Politik yang bermoral sangat dibutuhkan oleh generasi saat ini. Bukan hanya pelajar, pemuda, tapi dibutuhkan oleh masyarakat dunia, terutama di Indonesia. Kita bisa melihat, sekarang politik tidak lagi mengindahkan moral. Moral politik sepertinya dikantongi bahkan ada yang menaruhnya di dalam bak sampah. Politisi tak diragukan kecerdasannya, namun patut dipertanyakan moral politiknya.

Politik bermoral adalah tahu perbedaan aturan dengan peraturan. Jika politik moral di negeri ini diterapkan seperti bagian penerapan intelek, mungkin Indonesia bisa berteriak dan merasakan merdeka yang sebenar-benarnya.
Generasi muda juga seharusnya mengetahui moral dan moralitas sejak dini, karena kelak mereka akan menjadi tiang penyangga kibaran merah putih, menggantikan tiang yang mungkin sudah rapuh. Dalam hal menyangga sang saka Merah Putih, pengetahuan diperlukan, apatah lagi moral.

Wahai temanku para generasi muda, mari pergunakan moralmu sebelum membusuk. Bagi kalian yang terlanjur menaruh morah di bak sampah, maka temukanlah, lalu bersihkan dan gunakan moralmu!. Moral adalah emas, akan tetap berkilau meski dalam tumpukan sampah.
Wahai para generasi penerus bangsa, jika moral diapresiasikan dalam politik, mari kekokohan tiang penyangga, perbanyak ilmumu! kobarkan semangat! semangat nasionalis! semangat generasi muda! semangat generasi pembawa perubahan!, berubah dengan jalur politik!, politik bersih, politik yang bermoral!.

Marilah kita lebih bersemangat untuk mencari ilmu dan mengamalkannya, kita jadikan dunia politik yang benar-benar murni namun tidak meninggalkan ajaran moral, moral tidak untuk ajaran berpolitik, moral tidak untuk berkuasa, namun moral adalah tuntunan untuk melangkah maju menjadi lebih baik, sehingga Negara yang sejahtera dapat tercapai tanpa ternoda oleh korupsi, kolusi dan Nepotisme.

Dewan juri yang saya hormati, dan teman-teman yang saya banggakan
Demikian penyampaian pidato dari saya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih yang sebesarnya kepada panitia dan dewan juri, atas kesempatan yang diberikan. Apabila ada salah kata maupun sesuatu yang tidak berkenan, saya meminta maaf setulus-tulusnya.

Bersama peringati HARDIKNAS Meski hanya sedikit modal Politik meski bebas

Bukan berarti tak bermoral

Assalamualaikum wr.wb.