Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Ciri Pokok Kegiatan Belajar Mengajar | Tuan Guru

Pendidikan sebagai wahana pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia tertuang dalam berbagai rumusan tujuan pendidikan. United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), merumuskan empat pilar sebagai fungsi dan sekaligus sebagai tujuan pendidikan, yakni membantu siswa untuk belajar dan mampu berpikir, berbuat, hidup rukun, dan dapat menjadikan dirinya sendiri sebagai manusia seutuhnya (learning to think, learning to do, learning to live together peacefully, dan learning to be). Demikian pula di dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan yang diharapkan dicapai adalah “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Mahaesa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Secara khusus, profil luaran sumber daya manusia yang diharapkan dihasilkan oleh lembaga pendidikan adalah peningkatan kompetensi kecerdasan secara terpadu, baik kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, maupun kecerdasan spiritual. Bahkan menurut Gardner (2006) peningkatan kualitas sumber daya manusia seharusnya diarahkan kepada kecerdasan majemuk (multiple intelligence), yang ditandai dengan delapan kemampuan pokok, yakni; logical-mathematical, linguistic, musical, spatial, bodily-kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, dan naturalist (Wayne Weiten, 2008).

Guna mewujudkan harapan tersebut, maka proses pembelajaran di sekolah harus dirancang sedemikian rupa sehingga kondusif bagi telaksananya pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran bermakna adalah proses yang dapat membantu siswa memahami perubahan dan kemajuan ke arah penguasaan kompetensi yang diharapkan dikuasai setelah menyelesaikan suatu tahapan belajar.

Departemen Pendidikan Nasional (2003) mengemukakan tujuh ciri utama kegiatan belajar mengajar yang perlu ditempuh untuk memberdayakan siswa untuk belajar. Ketujuh ciri kegiatan belajar mengajar yang dimaksudkan adalah sebagai berikut.

1. Pembalikan Makna Belajar
Dalam pikiran sebagian praktisi pendidikan, makna dan hakikat belajar seringkali hanya diartikan sebagai penerimaan informasi dari sumber (guru dan buku pelajaran). Akibatnya, guru masih memaknai kegiatan mengajar sebagai kegiatan transfer informasi (baca: penuangan ‘air’ informasi) dari guru siswa. Dewasa ini, ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajari, dan bukan “menerima dan berikan” begitu saja oleh guru.

Untuk keperluan implementasi kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), guru perlu melakukan pembalikan makna dan hakikat belajar. Atas dasar  pandangan dan paradigma ini, makna dan hakikat belajar diartikan sebagai proses membangun makna /pemahaman terhadap informasi dan pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan oleh siswa atau bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang ada pada diri guru.

Akibat logis dari pengertian belajar di atas, mengajar merupakan kegiatan partisipasi guru dalam membangun pemahaman siswa. Partisipasi tersebut dapat berwujud perilaku seperti bertanya secara kritis, meminta kejelasan, atau menyajikan situasi yang tampak bertentangan dengan pemahaman siswa sehingga terdorong untuk memperbaiki pemahamannya. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan samapai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya. Partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu sebagai tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru.

2. Berpusat pada Siswa
Setiap siswa masing-masing memiliki sifat dan karasteristik yang berbeda. Perbedaan tersebut dalam dilihat pada minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, cara, dan gaya belajar. Siswa tertentu lebih mudah belajar dengan dengar-baca, siswa lain lebih mudah dengan melihat (visual) atau dengan cara kinestetiks (gerak). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu dilakukan secara bervariasi dan beragam sesuai karakteristik siswa. Kegiatan pembelajran (KBM) perlu menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Guru harus memperhatikan  bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, motivasi belajar, dan latar belakang sosial siswa. KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal.

Para ahli pendidik sependapat bahwa inti kegiatan pembelajaran adalah memulai pelajaran dari apa yang diketahui siswa. Guru tidak dapat memaksakan atau mengindoktrinasi siswa agar menerima ilmu pengetahuan begitu saja. Yang menjadi arsitek pengubah gagasan adalah siswa sendiri, bukan guru atau orang tua. Guru seharusnya berperan sebagai fasilitator atau penyedia kondisi supaya proses belajar dapat berlangsung dengan baik.

3. Belajar dengan Mengalami
Guru harus menyadari bahwa dalam rangka  mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era globalisasi yang penh tantangan dan ketidakpastian, diperlukan pendidikan yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. KBM perlu meneyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan atau dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari. Karena itu semua siswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman inderawi yang memungkinkan mereka memperoleh informasi dari melihat, mendengar, meraba atau menjamah, mencicipi, dan mencium. Dalam hal ini beberapa topik tidak mungkin disediakan pengalaman nyata, guru dapat menggantikannya dengan model atau situasi buatan dalam wujud simulasi. Jika ini juga tidak mungkin, sebaiknya siswa dapat memperoleh pengalaman melalui alat audio-visual (dengar-pandang). Pilihan pengalaman belajar melalui kegiatan mendengar adalah pilihan terakhir.

4. Mengembangkan Keterampilan Sosial, Kognitif, dan Emosional
Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau guru. Dengan kata lain, membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. Penyampaian gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau guru.

KBM diharapkan mampu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain. Dengan demikian, KBM memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat, sikap, kemampuan, prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. Artinya, KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya.

Untuk keperluan itu, guru hendaknya menciptakan suasana belajar kooperatif dalam kelas. Penciptaan suasana belajar kooperatif berarti pula penciptaan norma yang membuat semua anak memberikan sumbangan bagi kemajuan kelompok. Ini berarti anak pandai harus membantu anak yang kurang pandai, anak yang kuat harus membantu anak yang lemah, dan tiap anak harus saling mendorong untuk menumbuhkan motivasi belajar yang kuat. Berbagai perilaku luhur seperti telah dikemukakan bukan hanya sekedar diasumsikan dan dilaksanakan hanya jika diingat, tetapi secara sengaja diajarkan terus menerus.

5. Mengembangkan Rasa Keingintahuan, Imajinasi, dan Fitrah Ber-Tuhan
Setiap manusia yang dilahirkan telah dibekali dengan rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah bertuhan. Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk besikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Sementara, rasa fitrah bertuhan merupakan embrio atau cikal bakan untuk bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. KBM perlu mempetimbangkan rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah bertuhan agar setiap sesi kegiatan pembelajaran menjadi wahana untuk memberdayakan ketiga jenis potensi ini.

Para pendidik (guru) harus memahami bahwa masalah pendidikan anak bukan sekedar memberdayakan pikiran dan pencapaian prestasi belajar, melainkan berkaitan erat dengan hati sanubari dan moral spiritual serta pembentukan karakter anak (fitrah bertuhan). Seberapa jauh rancangan pembelajaran (kurikulum) yang telah disusun menyentuh perkembangan emosional dan spiritual anak? Mengapa sensivitas belajar hilang dari sistem pendidikan kita? Tampaknya pernyataan yang berbunyi “tidak sedikit masalah pendidikan anak, diselesaikan dengan berbagai kepentingan orang dewasa” ada benarnya.

6. Belajar Sepanjang Hayat
Siswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk bisa bertahan (survive) dan berhasil dalam menghadapi setiap masalah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari. Karena itu, siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. KBM perlu mendorong siswa untuk dapat melihat dirinya secara positif, mengenali dirinya baik kelebihan maupun kekurangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Demikian pula KBM perlu membekali siswa dengan keterampilan belajar, yang meliputi pengembangan rasa percaya diri, keingintahuan, kemampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar, baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar kelas.

7. Perpaduan Kemandirian dan Kerjasama
Siswa perlu berkompetesi, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. KBM perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat berkompetesisi sehat untuk memperoleh penghargaan, bekerjasama, dan solidaritas. KBM perlu menyediakan tugas-tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri maupun bekerja secara berkelompok.

Dalam proses pembelajaran, guru dituntut menciptakan suasana yang mendorong anak-anak merasa saling membutuhkan satu sama lain. Hubungan saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan positif dapat dicapai melalui saling ketrgantungan tujuan, saling ketergantungan tugas, saling ketergantungan bahan atau sumber, dan saling ketergantungan peran.

Sumber: Panduan Model Pembelajaran Efektif pada Sekolah Unggulan di Sulawesi Selatan. 2006. Makassar: Kerjasama Pemprov. Sulsel dengan UNM.