Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Bridging Course Pasca Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) | Tuan Guru

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan adalah tingkat kesiapan lulusan SD ketika memasuki jenjang SMP. Rendahnya mutu pendidikan di SD menyebabkan lulusan SD tidak siap mengikuti pendidikan di SMP. Pola pendidikan yang saat ini berlangsung memberi kemungkinan lulusan SD, walaupun dengan dengan tingkat penguasaan “terbatas” dapat lulus dan berhak melanjutkan ke SMP. Kondisi seperti itu kemudian menjadi masalah bagi guru di SMP, yakni kesulitan memulai pelajaran karena bekal awal yang dimiliki oleh siswa (lulusan SD) tidak memadai untuk mengikuti pelajaran di SMP.

Siswa baru SMP yang kurang siap mengikuti pelajaran baru, dan terutama ketidakmerataan kesiapan juga terjadi di sebagian besar sekolah. Ketidakmerataan  mutu SD dan rendahnya mutu di sebagian SD menjadi penyebab pokok. Dengan adanya program Wajib Belajar sekolah tidak dapat menolak lulusan SD yang memiliki bekal awal yang tidak memadai, sehingga akhirnya mereka tidak siap mengikuti pelajaran baru di SMP.

Untuk mengatasi masalah tersebut di atas, perlu dicari jalan keluar agar siswa baru di SMP siap untuk mengikuti pelajaran ketika tahun pelajaran dimulai. Mengingat mutu lulusan SD belum optimal, maka perlu dilakukan program bridging course (BC) di awal tahun pelajaran SMP supaya siswa baru siap untuk mengikuti pelajaran di SMP dengan baik.  Program BC ini adalah semacam program matrikulasi untuk meningkatkan kemampuan awal siswa di tingkat SMP. Pelaksanaan BC dapat diintegrasikan dengan masa orientasi siswa (MOS) bagi siswa baru atau dapat pula dilaksanakan secara terpisah dari kegiatan MOS.

Para guru dan kepala sekolah juga menyatakan bahwa siswa menjadi lebih yakin, karena materi BC lebih mirip dengan mengulang pelajaran SD secara singkat dan kemudian disambungkan dengan pelajaran awal di SMP. Pola pembelajaran juga menyenangkan, sehingga siswa merasa nyaman terhadap mata pelajaran.

Dalam Kurikulum SD tidak ada mata pelajaran Bahasa Inggris atau komputer, meskipun terdapat SD yang memberikannya dalam bentuk muatan lokal. Akibatnya bekal awal bahasa Inggris dan komputer juga kurang memadai untuk mengikuti pelajaran di RSBI. Oleh karena itu, program BC  juga penting dilakukan untuk siswa baru sebagai siswa RSBI.

1.  Tujuan Tujuan utama dilaksanakannya program BC adalah menyiapkan siswa baru di SMP, sehingga siap mengikuti pelajaran di RSBI. Tujuan ini dapat dirinci sebagai berikut:

  1. Meningkatkan bekal awal siswa baru SMP dengan cara membahas ulang materi-materi esensial seperti bidang IPA, Matematika yang sangat penting untuk persiapan mengikuti pelajaran di SMP RSBI. Disamping itu juga materi tambahan yang sangat diperlukan dalam pembelajaran RSBI yaitu Bahasa Inggris, TIK, dan lainnya.
  2. Menyamakan bekal awal siswa baru SMP, agar antara satu siswa dengan siswa lainnya tidak jauh berbeda, sehingga guru lebih mudah dalam memulai pelajaran di kelas VII SMP RSBI.

2.  Konsep Bridging Course (Matrikulasi)
Bekal awal sangat penting bagi siswa dalam proses pembelajaran. Bekal awal tersebut akan berfungsi sebagai “modal” dalam memahami informasi yang dipelajari. Proses pemahaman pada dasarnya merupakan interaksi secara asimilasi atau akomodasi informasi yang baru diterima dengan bekal awal yang telah dimiliki sebelumnya. Sebagai contoh, ketika siswa SD belajar perkalian, maka mereka akan menggunakan kemampuan penjumlahan berulang sebagai bekal awal. Jika siswa belum menguasai penjumlahan, maka mereka akan sangat sulit mempelajari perkalian. Oleh karena itu, banyak ahli menyebut penjumlahan sebagai prasyarat belajar perkalian. Pola tersebut juga terjadi pada topik-topik pada mata pelajaran Matematika dan mata pelajaran lainnya.

Secara teoretik, orang belajar pada dasarnya merupakan proses pengembangan skema berpikir yang bertolak dari skema yang telah ada sebelumnya. Makin dekat antara skema berpikir yang telah dimiliki dengan skema yang dipelajari akan semakin mudah orang belajar. Proses belajar pada dasarnya merupakan proses asimilasi dari skema yang telah ada, yaitu perluasan “skema” lama akibat adanya penambahan informasi baru. Misalnya kita telah memahami tentang peta jalan raya di kota Jakarta. Setelah itu, kita mempelajari peta jalan kereta api sehingga kita dapat menggabungkan kedua peta tersebut dan dapat mengetahui cara naik kereta api dari stasiun jatinegara turun di stasiun kota dan akan ke ancol naik angkutan kota.

Proses belajar dapat juga merupakan proses akomodasi, yaitu jika informasi baru mengubah atau mengoreksi skema lama menjadi skema baru. Misalnya semula kita telah belajar dan menyimpulkan bahwa ikan paus berkembang biak dengan cara bertelur karena termasuk jenis ikan. Kemudian belajar tentang ikan secara lebih mendalam dan menjumpai informasi bahwa ikan paus berkembang biak dengan beranak karena termasuk mamalia. Dengan demikian, terjadi perubahan skema berpikir dari ikan paus termasuk jenis ikan menjadi ikan paus termasuk jenis mamalia. Jika terjadi perubahan pemahaman secara utuh, yaitu bahwa ikan paus termasuk mamalia, walaupun bentuk ikan, sehingga berkembang biak dengan cara beranak, seperti pada ciri mamalia, berarti telah terjadi proses akomodasi pada skema berpikir siswa.

Baik proses asimilasi maupun akomodasi memerlukan skema lama yang secara sederhana disebut bekal awal atau prasyarat. Kelemahan atau kekurangan bekal awal akan menyulitkan siswa belajar karena yang bersangkutan tidak memiliki skema berpikir yang dapat dikaitkan dengan apa yang dipelajari.  Jika dipaksakan, informasi akan dihafal tanpa pemahaman dan dalam waktu cepat akan mudah dilupakan. Pola pembelajaran seperti itu akan menyebabkan pendidikan tidak bermakna (meaningless), karena siswa tidak memahami apa yang sedang dipelajari. Di samping itu, pembelajaran menjadi penumpukan informasi tanpa disertai pemaknaan dan perangkaian antara berbagai fakta, konsep, dan teori. Akibatnya siswa akan menjadi sangat terbebani ketika belajar.

3.  Pola Pembelajaran pada Program Bridging Course
Cara melaksanakan pembelajaran dalam program bridging course terkait erat dengan upaya agar siswa belajar dengan mudah, penuh keyakinan akan mampu menguasai apa yang dipelajari dan sungguh-sungguh dalam belajar. Prinsip pembelajaran yang dapat memunculkan tiga hal di atas, antara lain: (1) pembelajaran kontekstual, (2) pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning), dan (3) pembelajaran berdasarkan masalah. Tentu masih banyak pola pembelajaran lain yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik anak didik dan kondisi sekolah serta lingkungannya.

Bahkan pada tahap tertentu pola pembelajaran kontekstual dapat diteruskan dengan mendorong siswa menarik kesimpulan sendiri, sehingga seakan-akan mereka menemukan “teori” atau “hukum” baru. Pembelajaran yang menyenangkan artinya pembelajaran yang dapat membuat siswa senang dan bukan merasa terpaksa ikut pelajaran. Agar siswa senang dalam belajar, maka prinsip pemrosesan informasi patut diperhatikan. Siswa akan menyenangi situasi belajar jika apa yang dipelajari sesuai dengan apa yang diperlukan atau sesuai dengan hobinya, paling tidak terkait dengan apa yang dibutuhkan atau hobinya. Di samping itu, siswa akan senang belajar jika situasinya menyenangkan.

Mekanisme pengintegrasian program bridging course dengan MOS di sekolah, sangat tergantung pada program yang direncanakan oleh sekolah atas dasar hasil pre test dan hasil tes diagnostik. Sebagai gambaran matrikulasi dapat dilakukan selama kurun waktu tertentu menurut jumlah jam beban belajar tiap materi yang ditentukan. Namun demikian, akan lebih bijak apabila pelaksanaan MOS dengan matrikulasi ini dilakukan secara terpisah, sehingga peserta didik lebih konsentrasi atau fokus. Terlebih apabila peserta matrikulasi belum dinyatakan secara resmi sebagai peserta didik SMP RSBI.