Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Banyak Guru Menderita Penyakit Amnesia | Tuan Guru

Akhir-akhir ini, peran guru sebagai ujung tombak pembangun insan cendekia semakin diuji kredibilitasnya. Banyak kalangan meragukan kualitas guru yang dinilai kian merosot, terkesan statis, tidak mengembangkan kompetensinya, dan cukup puas dengan tunjangan sertifikasi yang diterimanya, meskipun selalu dibayar terlambat. Pemerintah terus menggulirkan peraturan dan undang-undang yang mendesak guru agar semakin meningkatkan profesionalismenya. Kebijakan pemerintah tersebut tentunya beralasan, bahwa dengan dikucurkannya dana sertifikasi untuk kejahteraan guru, maka seharusnya dibarengi dengan peningkatan kinerja guru.

Tahun 2012 dilakukan Uji Kompetensi Guru (UKG) yang meski banyak pengamat menilai sebagai proyek “menghabiskan anggaran”, namun hasilnya memang cukup mengecewakan. Sebagian besar tidak mencapai skor 75 standar kelulusan. Tahun 2013 mulai diberlakukan PKG (Penilaian Kinerja Guru) yang sontak banyak guru stress tidak dapat naik pangkat, jumlah jam dikurangi, dan ujung-ujungnya tunjangan sertifikasi yang bersangkutan bakal dihentikan.

Di tengah-tengah kusutnya kondisi sekolah yang dilanda problem distribusi guru yang tidak merata, pengangkatan PNS yang sarat dengan unsur nepotisme dan money system akibat otonomi daerah, memunculkan sikap skeptis dan putus asa akan kesungguhan niat pemerintah meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini berdampak pada merosotnya kinerja, sikap apatis, dan celakanya rawan konflik horizontal dalam suatu unit kerja.

Ada apa dengan guru? Agaknya banyak pendidik telah menderita amnesia, penyakit lupa. Mereka lupa, bahwa dulu ketika pertama kali membulatkan tekad menjadi seorang guru, maka saat itu sadar betul bahwa penghasilan guru amat rendah dibanding PNS di instansi lainnya. Mereka lupa, ketika ditanya waktu lulus di perguruan tinggi keguruan, “mengapa anda ingin jadi guru?” Mereka menjawab dengan pasti, “guru adalah pekerjaan paling mulia”. Mereka lupa, ketika wacana tentang tunjangan sertifikasi mulai hangat dibicarakan orang, banyak guru seakan bangkit dari kubur, mereka berteriak, “sekiranya saya dapat tunjangan sertifikasi, saya akan bekerja lebih baik, saya akan lebih fokus membina anak didik kalau perlu bermalam di sekolah juga boleh. Saya akan melengkapi administrasi pembelajaran, saya tidak perlu lagi nyambi di luar. Setiap mengajar akan saya akan siapkan LKS, saya akan siapkan media pembelajaran. Pokoknya, saya akan berusaha menjadi guru profesional sesuai tuntutan pemerintah”.

Sejuta janji manis terucap di mulut laksana kampanye caleg, semanis janji calon bupati menjelang pilkada. Dan hasilnya? Seperti biasa begitu tujuan tercapai, semua janji manis tersebut hilang ditelan bumi. Mendadak mereka terkena penyakit amnesia, lupa janji, lupa bersyukur, dan lupa diri. Tunjangan sertifikasi ternyata tidak berdampak signifikan bagi peningkatan kualitas guru. Yang malas tetap saja malas, yang mengajar sekedarnya tetap saja bertahan dengan gayanya. Yang meningkat justru keluhan harus mengajar 24 jam. Kegiatan ekstrakurikuler dan pembinaan siswa di sore hari terabaikan dengan alasan capek melaksanakan 24 tatap muka per minggu. Untungnya penyakit amnesia yang diderita bukan amnesia total, melainkan amnesia parsial. Mereka hanya lupa tugas dan tanggung jawab sebagai guru yang baik, namun tetap memiliki daya ingat yang luar biasa mengenai kapan dana sertifikasi akan dicairkan.

Dalam ilmu psikologi, seorang penderita amnesia biasanya diobati dengan cara mengingatkan kembali kenangan paling berkesan di masa lalu. Agaknya guru perlu menengok kembali masa Umar Bakri agar menjadi pil penyadar sebelum Tuhan memberi penyakit yang lebih dahsyat.

——- Tuan Guru ——-

Artikel Terkait
  Guru Harus Menjadi Sutradara yang Baik
  Pilih Tunjangan Sertifikasi atau Sehat?
  Evaluasi Bukan untuk Menghakimi Siswa
  Masih Perlukah Diadakan Rapat Kenaikan Kelas?
  Kapan Guru Menjadi “Guru Dewasa”?
  Tanggapan Guru tentang Uji Kompetensi Guru (UKG)
  Sekolah “Palsu” Pembuat “Ijazah Palsu”
  Majas + Bisa = Majas Berbisa
•  Malpraktik di Dunia Pendidikan
  Peran Guru Sebagai Pembangun Insan Cendekia