Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
pujian-1

Aku Dipuji, Aku Tertipu ! | Tuan Guru

pujian-1

Hari ini Ira mengendarai motor Scoopy barunya ke sekolah, Ayu membawa tas cantiknya, Ufi dengan sepatu trendinya. Mereka dikerubuti teman-temannya sambil memuji barang milik mereka. Ira, Ayu dan Ufi pun sambil tersenyum sumringah, dengan bangga menceriterakan riwayat barang pemberian ortu mereka itu. Sambil diselingi canda ria, pembicaraan tersebut berakhir di kantin, saat Ira, Ayu dan Ufi mengajak traktir teman-temannya.

Fragmen semacam di atas amat lazim dijumpai di persekolahan, di kantor-kantor, dan tempat lainnya. Tuan Guru mengangkat masalah ini untuk mengingatkan, betapa seringnya kita bangga, merasa senang apabila seseorang memuji barang-barang milik kita, padahal itu bukan diri atau bahagian dari diri kita. Bukankah yang seharusnya senang adalah motor, tas, dan sepatu, karena merekalah yang dipuji?

Dalam suatu lomba ayam ketawa, ayam Pak Haji berhasil meraih juara 1. Pak Haji pun bersorak sambil meloncat-loncat kegirangan. Siapakah yang menang sebenarnya, Pak Haji atau ayam? Jika dilihat dari perspektif dunia hakekat, maka kita akan sulit membedakan mana ayam, mana Pak Haji. Kenapa bisa begitu? Karena pada saat itu Pak Haji telah meninggalkan wilayah insaniah dan memasuki wilayah hewaniah.

Anak-anakku, kembali pada pembicaraan di atas. Alangkah bagusnya apabila mereka memujimu karena kebaikan hatimu, kesabaranmu, atau ketinggian akhlakmu. Itu lebih baik daripada pujian atas sesuatu yang bukan bagian dari dirimu. Kebaikan hati dan ketinggian akhlak pun pada hakekatnya bukan diri kita. Kesemuanya itu hanyalah pancaran nur atau cahaya yang bersumber dari diri. Karena diri kita, tak seorang pun mampu memujinya, tak ada kata-kata yang mampu mewakili pujian atasnya. Pada diri itulah, Allah memerintahkan para malaikat dan iblis untuk bersujud.

Nah, bagaimana sikap kita jika ada seseorang yang memuji? Berilah mereka penghargaan yang sepantasnya, namun janganlah merasa senang atau bangga, sehingga kalian tertipu. Tanamkan dalam hati bahwa mereka sebenarnya tidak sedang memujimu. Begitu banyak orang yang tertipu dan terperdaya karena pujian. Begitu banyak orang yang menipu dirinya sendiri karena senang dengan pujian. Anak-anakku, bila kalian memahami ini, kalian akan menyamakan antara pujian dan hinaan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua.

——- Tuan Guru ——-