Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Ajaran Guru Sufi; Syihabuddin Suhrawardi Halabi | Tuan Guru

Suhrawardi Halabi mengenyam pendidikan di Baghdad dan menyebut dirinya al-Murid bil-Malakut (Pencari Dunia yang Tak Kasat Mata). Ketika dia telah menjadi ahli di jalan Sufi, dia menetap di Aleppo dan hidup di sana sebagai seorang guru sufi. Dia didakwa telah melakukan bid’ah dan Saladin memerintahkan untuk membunuhnya. Dia menulis sejumlah buku yang menjelaskan tentang doktrin iluminasinya, yang paling penting adalah Hikmah al-Isyraq (Filsafat Iluminasi) dan Hayakil an-Nur (Kuil-kuil Cahaya). Berikut ungkapan atau ujaran sufisme Suhrawardi:

Wahai Tuan, Engkau Tuhan semesta alam, semua makhluk pintar dan semua yang masuk akal, Kau Pemberi pikiran dan jiwa, Yang telah menanamkan fondasi-fondasi dunia, Penyebab Pertama semua keberadaan dan Penyebar segala rahmat, Kau Pembuat kalbu dan ruh dan Perancang semua bentuk dan jasad. Wahai Cahaya segala cahaya dan Peminpin semua langit, Kau adalah Yang Pertama, tak ada sesuatu pun sebelum Engkau, Kau adalah Yang Terakhir, tak sesuatu pun setelah Engkau. Malaikat-malaikat tak mampu mencerna Kebesaran-Mu dan manusia tidak dapat menggapai pengetahuan tentang kesempurnaan Dzt-Mu. Oh Tuhan, bebaskan kami dari belenggu-belenggu dunia dan jasad, dan jauhkan kami dari semua keburukan yang mungkin menghalangi kami. Siramilah ruh-ruh kami dengan pesona-Mu yang agung dan sinarilah jiwa-jiwa kami dengan kemilau Cahaya-Mu. Akal manusia tidak adalah setetes di tengah lautan Kerajaan-Mu dan jiwa tidak lain setitik noda di antara Keagungan Ilahi.

Pujilah Dia Yang tidak bisa disaksikan oleh pandangan, dan yang pikiran tidak mampu mencari kesamaan-Nya, kepada-Nya segala syukur dan pujian. Engkau yang memberi dan Engkau pula yang mengambil. Engkau adalah Semua Rahmat dan Semua Yang Kekal. Terpujilah Dia, karena milik-Nya kekuasaan atas semua dan kepada-Nya semua akan kembali.

Dzat Cahaya Mutlak Pertama, Tuhan, memberi penerangan yang terus-menerus, di mana ia terwujud dan ia menghidupkan semua benda dengan cahaya-cahayanya. Segala sesuatu di dunia ini berasal dari Cahaya Dzat-Nya dan semua keindahan dan kesempurnaan adalah pemberian dari rahmat-Nya, dan selamatlah mereka yang meraih pencerahan ini sepenuhnya.

Dari tahap “aku” sang pencari melangkah menuju tahap “aku bukan” dan “Kau adalah”, dan kemudian ke tahap “aku bukan dan Engkau bukan”, karena dia sekarang telah menyatu dengan Dia. Penglihatan Tuhan dan penerimaan Cahaya-Nya berarti penyatuan (ittishal) dan kemanunggalan (ittihad) dengan Dzat-Nya, Cahaya dari Segala Cahaya.