Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Ajaran Guru Sufi; Ibrahim bin Adham | Tuan Guru

Ibrahim bin Adham diahirkan di Balkh, anak dari seorang raja Khurasan. Dia beriman setelah mendengar bisikan Tuhan ketika sedang berburu di hutan. Semenjak itu, ia hidup dalam kemiskinan dan asketisme (zuhud), hidup dari hasil kedua tangannya. Dia adalah seorang guru sufi yang ajarannya terutama berkisar tentang asketisme, mistisisme, dan dia lebih menyuntukkan diri terutama dengan kontrol-diri (muraqabah) dan gnosis (ma’rifat). Ajaran Ibrahim bin Adham dapat dilihat dari ujaran-ujarannya:

Untuk menjadi seorang wali Tuhan engkau tidak boleh mendambakan apa-apa di dunia ini atau dunia esok dan engkau harus memasrahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan palingkan wajahmu kepada-Nya, dengan tidak memiliki nafsu untuk dunia ini atau untuk dunia esok. Mendambakan dunia ini berarti memalingkan diri dari Tuhan, demi sesuatu yang tidak kekal, dan mendambakan dunia esok berarti memalingkan diri dari Tuhan, demi sesuatu yang abadi. Apa yang tidak kekal sirna dan penolakannya pun menghilang, tetapi penolakan apa yang abadi tidak akan pernah pupus.

Seorang lelaki terus-menerus meratapi keadaannya dan mengeluhkan kemiskinannya. Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, “Anakku, mungkin kau hanya membayar sedikit untuk kemiskinanmu?” “Engkau bicara omong kosong”, kata lelaki itu, “kau mestinya malu pada dirimu sendiri. Adakah orang yang membeli kemiskinan?” Ibrahim menjawab, “Bagiku, aku memilih kemiskinan atas kehendakku sendiri, ya, aku membayar lebih dengan harga kemegahan dunia ini, dan aku akan membeli satu kemiskinan baru lagi dengan seratus dunia, karena setiap saat ia menjadi lebih bernilai untukku. Ketika aku menemukan barang berharga ini, aku ucapkan salam terakhir pada kegelimangan. Tanpa ada keraguan, aku tahu harga kemiskinan, sementara kau masih mengabaikannya. Aku berterima kasih kepada kemiskinan, sementara kau tidak mensyukurinya. Mereka yang menginginkan keruhanian bersedia untuk mempertaruhkan baik jiwa dan raganya untuk mencarinya, dan mereka menghabiskan tahun-tahun mereka terhisap oleh kecintaannya pada Tuhan. Kepak-kepak ambisi mereka terbang mencapai persahabatan dengan Dia: ia telah membumbung tinggi di atas keruhanian sesaat. Jika kau bukan seorang manusia yang cukup untuk cita-cita semacam itu, pergilah, karena kau tidak pantas ikut ambil bagian dalam keagungan Tuhan.”