Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Ajaran Guru Sufi; Harits bin Asad al-Muhasibi | Tuan Guru

Harits bin Asad al-Muhasibi dilahirkan di Basrah dan mengenyam pendidikan di Bagdad di mana dia mendapatkan pengetahuan menyeluruh tentang teologi dan filsafat, demikian juga sufisme. Dia disebut “al-Muhasibi” karena pengujian diri yang dilakukannya dan dikatakan sebagai seorang sufi “yang memiliki anak panah menancap pada sasarannya.” Al-Muhasibi adalah seorang guru sufi dan banyak muridnya yang kelak menjadi sufi besar. Al-Muhasibi meninggalkan banyak tulisan tentang sufisme.

Ketika cinta ditambatkan ke jantung seorang hamba, tidak ada lagi tempat untuk mengingat surga atau neraka, atau juga untuk apa pun kecuali mengingat Sang Kekasih. Kecintaan kepada-Nya esensinya adalah iluminasi kalbu yang sebenar-benarnya sarat keriangan karena kedekatannya dengan Sang Kekasih, karena cinta, dalam kesunyian, muncul sebagai pemenang dan kalbu sang kekasih digelayuti rasa keintiman dengan-Nya, dan ketika kesunyian melebur bersama persetubuhan rahasia dengan Sang Kekasih, kegembiraan dari persetubuhan itu memenihi pikirannya, sehingga ia tidak lagi memikirkan dunia dan seluruh isinya.

Kepada siapa saja yang telah ditempatkan Tuhan dalam barisan kekasih-Nya, Dia akan menampakkan Wujud-Nya, karena Dia telah bersumpah seraya berkata: “Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menunjukkan Wajah-Ku dan Aku sembuhkan jiwanya dengan melihat Diri-Ku.” Kalbu para kekasih terpenjara dalam pusara tersembunyi ketulusan cinta dari Ilahi, yang diubah oleh kegembiraan pandangan, dalam perenungan Yang Tak Kasat Mata, dan kemuliaan Tuhan yang menelungkup, dan karenanya terbuanglah semua penghalang, sebab mereka melintasi jalan keintiman dengan Tuhan dan dimasukkan ke dalam taman penglihatan, dan kalbu mereka menetap di situ, di mana mereka melihat tanpa mata, dan berada dalam lingkungan Kekasih, tanpa memandang-Nya, dan bercakap dengan seorang Teman Yang Tak Terlihat.

Inilah penjabaran tentang pecinta-pecinta Tuhan, yang melaksanakan kebenaran, yang diberkahi kebajikan surgawi, yang dibimbing siang dan malam, murni dalam semua pikiran, mereka yang telah dipersiapkan tuhan untuk menjadi hamba-Nya, yang telah dilanggengkan oleh Tuhan dengan kasih-sayang-Nya, yang telah Dia tanami dengan kewibawaan-Nya. Mereka senantiasa mengabdi kepada Dia yang memiliki langit-langit dan bumi: mereka benar-benar puas, sebab mereka menjalani kehidupan yang baik, kebahagiaan mereka abadi dan kegembiraan mereka sempurna dan mereka memiliki kekayaan abadi dalam kalbu mereka, karena seolah-olah mereka telah merenungkan dengan mata hati Kemuliaan yang tak kasat, dan Tuhan adalah obyek dan tujuan pengembaraannya. Barangsiapa mengenal Tuhan akan mencintai-Nya dan siapa yang mencintai-Nya, Dia akan membuatnya bersemayam bersama-Nya dan siapa yang bersemayam bersama-Nya, pada dirinya Dia bersemayam, diberkahilah dia, ya diberkahilah dia.