Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu

Ajaran Guru Sufi; Abul Qasim bin Muhammad al-Junaid | Tuan Guru

Al-Junaid adalah seorang Persia, namun lahir dan besar di Baghdad. Dia salah satu yang paling terkenal kesengsaraannya di antara guru sufi, meskipun dia dapat berbicara dengan sedikit orang saja, sedikitnya sepuluh orang. Doktrin-doktrin sufi dikembangkan dan disistematiskan olehnya dan dia menulis sejumlah karya mistis, di antaranya Kitab Fana (Pembinasaan), Kitab at-Tauhid (Keesaan) dan Dawa’al-Arwah (Penyembuhan bagi Jiwa). Al-Junaid menjelaskan sufisme sebagai berikut:

Perjalanan dari dunia ini ke dunia esok (yakni untuk meninggalkan yang duniawiah menuju yang ruhaniah) adalah mudah bagi orang beriman: perjalanan dari makhluk-makhluk (yakni berpisah dari mereka dan dari ketergantungan kepada mereka) menuju Sang Pencipta adalah sulit: beranjak dari diri sendiri menuju Tuhan sangatlah sulit: dan untuk mampu bersemayam bersama Tuhan lebih sulit lagi.

Sufisme berarti bahwa Tuhan membuat dirimu mati lalu menghidupkanmu dalam Dia untuk menyucikan kalbu daru kekambuhan nafsu-nafsu badaniah, untuk menyampaikan salam perpisahan kepada semua kecenderungan duniawi, untuk meredakan kualitas-kualitas yang menjadi sifat manusia, untuk tetap menjauh dari hasrat-hasrat inderawi, untuk melekat pada kualitas-kualitas ruhani, untuk mendaki pengetahuan Ilahiah, untuk dikuasai dengan apa yahng terbaik secara abadi, untuk memberikan nasihat bijak kepada semua orang, dengan setia menggali kebenaran, dan untuk mengikuti Sang Nabi dalam aturan-aturan agama.

Cinta berarti bahwa sifat-sifat sang pecinta beralih menjadi sifat-sifat Sang Kekasih. Sekarang dia hidup sesuai dengan perkataan Tuhan: “Ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi mata yang dengannya dua melihat dan pendengaran yang dengannya dia mendengar dan tangan yang dengannya dia meraih.

Wali yang menghendaki kemenyatuan kehendak manusia denga kehendak Ilahi (yang merupakan syarat pertama untuk menyempurnakan kesatuan), hendaknya menjadi seperti jasad yang mati di tangan Tuhan, yang mengikuti tanpa membantah dalam semua perubahan yang terjadi karena keputusan-Nya dan semua yang diakibatkan oleh kebesaran kuasa-Nya, karena wali berada di dasar lautan kesatuan, dengan menjauh dari keakuan dan dari tuntutan-tuntutan duniawi pada dirinya dan dari semua tanggapan terhadap semua itu, ke dalam perwujudan Kemanunggalan Tuhan, ke dalam pengalaman langsung Kehadiran-Nya. Dia meninggalkannya dengan perasaan dan perbuatannya sendiri, ketika dia memasuki kehidupan dnegan Tuhan, sehingga menjadi apa yang dikehendaki Tuhan, bahwa sang hamba, pada akhirnya akan kembali ke keadaan di mana dia mulai, dan hendaknya menjadi seperti sediakala sebelum dia berawal.

Tuhan memberi hasrat yang penuh gairah kepada kaum arifin untuk menyaksikan Dzat-Nya, kemudia pengetahuan menjadi penglihatan dan penyingkapan, dan ketersingkapan perenungan serta wujud – bersama dan dalam Tuhan. Kata-kata meleleh diam, hidup menjadi mati, penjabaran (yang begiktu penting bagi akal terbatas di dunia ini) mendekati sebuah akhir, tanda-tanda (yang merupakan sebuah kelonggaran bagi mereka yang lemah iman) terhapus. Keduniawian (fana’) berakhir dan keabadian (baqa’) menjadi sempurna.

Ruh-ruh kaum arifin bersuka cita dalam percakapan dengan Yang Tak Terlihat, yan bersemayam dalam haribaan Yang Maha Mulia, dalam awan kemuliaan yang membungkus-Nya, dalam bayang Kesucian-Nya. Mereka telah mendaki ke persinggahan yang tinggi dan mereka melintasinya menuju kesempurnaan yang lebih besar, menuju sebuah keagungan mutlak yang abadi, dan mereka berjalan, dengan berpakaian jubah Kemenyatuan.