Tuan Guru
Menghidupkan Kembali Sosok Tuan Guru Yang Ditiru dan Digugu
imamal-ghazali-1

Ajaran Guru Sufi; Abu Hamid al-Ghazali | Tuan Guru

imamal-ghazali-1 Al-Ghazali dilahirkan di Khurasan tahun 450 H./1058 M. Dia melepaskan karir akademis yang cemerlang demi mencari Tuhan, dan menemukan bahwa jalan menuju Tuhan terhampar dalam sufisme. Menjelang akhir hayatnya dia membangun sebuah zawiyah untuk para sufi, di mana dia menghabiskan waktunya untuk mengajar. Dia adalah guru sufi dan sosok penulis paling terkenal dan menulis banyak risalah tentang sufisme. Karya terbesar dan paling lengkap darinya adalah Ihya ‘Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama). Berikut ini beberapa nukilan ajaran sufisme Al-Ghazali :

Semua yang kita saksikan dan lihat dengan indera kita memikul kesaksian yang tidak terbantahkan terhadap keberadaan Tuhan dan kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya dan seluruh sifat-Nya, apakah diwujudkan atau tersembunyi, batu dan bongkahan, tetumbuhan atau pepohonan, makhluk-makhluk hidup, langit, bumi dan bintang-bintang, tanah kering dan samudera, api dan udara, pokok dan kebetulan, dan memang kita sendiri adalah saksi utama untuk-Nya.

Namun kita seperti kelelawar yang hanya melihat pada malam hari ketika cahaya tersaput kegelapan, dan karenanya tidak dapat melihat di siang hari, karena lemahnya pandangan. Demikian pula pikiran manusia terlalu lemah untuk memandang keagungan penuh kebesaran Ilahi.

Dialah Yang Maha Mulia, Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Tinggi, yang tidak pernah tidur maupun terlelap, kelahiran dan kamtian tidak memiliki kuasa atas Dia. Milik-Nya kekuasaan dan kerajaan dan keagungan serta kebesaran dan milik-Nya pula ciptaan dan segala aturan atas apapun yang telah diciptakan-Nya. Dialah Pemberi kehidupan, Dia Maha Mengetahui, karena pengetahuan-Nya melampaui segala sesuatu, dari kedalaman bumi yang paling dalam sampai ketinggian langit yang paling tinggi. Bahkan tiada atom terkecil pun du buni atau di langit yang tidak diketahui oleh-Nya. Dia mengatahui bagaimana semut merangkak di atas karang terjal dalam kegelapan malam. Dia melihat gerakan bintik di dalam eter. Dia mengetahui pikiran-pikiran yang terlintas dalam benak manusia, dan melanglangnya khayalan dan rahasia kalbu manusia.

Kau harus mengenal dirimu apa adanya, agar kau memahami sifatmu dan kapan kau terlahir di dunia ini dan mengapa kau diciptakan. Dalam dirimu tergabung sifat-sifat hewan dan binatang buas, dan juga sifat-sifat malaikat. Tetapi ruh adalah zatmu yang sejati, dan semua selain itu adalah asing bagimu. Jadi kejarlah pengetahuan tentang asal-usulmu, agar kau tahu bagaimana mencapai kehadiran Ilahi dan perenungan akan Kebesaran dan Keindahan Ilahi, dan melepaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Karena Tuhan tidak menciptakanmu untuk menjadi tawanan mereka, melainkan mereka hendaknya menjadi budakmu.

Kaidah sufi adalah bahwa kefakiran hendaknya menjadi perhiasannya dan kesabaran sebagai ornamennya dan kepuasan sebagai tunggangannya dan keyakinan sebagai harga dirinya. Kalbunya bebas dari kerusakan dan penghalang, karena kecintaan pada Tuhannya, dan dia mencari-Nya dalam diri terdalam. Dia tidak bergantung pada apa pun, tidak memiliki persaudaraan dengan siapapun kecuali Dia yang dia sembah.

Ketika para salik (penempuh jalan sufi) memasuki kebersatuan dengan Sang Pencipta, kebesaran-Nya meliputi mereka dan mereka segera lenyap, mereka tidak lagi menjadi diri sendiri. Mereka tidak lagi merenungkan diri sendiri, di sana hanya ada Satu, Yang Hakiki, dan makna dari firman-Nya “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya,” dipahami melalui pengalaman.